oleh De Es Nugroho pada 14 Maret 2010 jam 9:37
Dan ia masih saja duduk, diam
Sorot matanya tajam menatap lurus kedepan.
Ia masih saja duduk, duduk di balik pintu
Duduk diam dan pandangannya tetap lurus kedepan
Pintu yang tembus pandang
Sebab dari kaca adanya
Dibalik pintu memandang
Karena itu terpandang juga dirinya
Lantas kemana gerangan dalam dan luarnya
Sebab tidak ada beda diantaranya
Oleh pintu kaca adanya
Sebab mata mampu menembusnya
Dan ruang membuat menjadi beku
Ruang butuh ukuran
Hingga sudut- sudut yang tak terhingga
Ada garis lurus tegas juga lembutnya lengkungan
Atau ketidak beraturan perpaduan keduanya
Pandangan mata sedikit kabur
Hembusan nafas terpacu
Hingga jarak pun sampai
Menyentuh pintu kaca
Persetubuhan ruang
Angin nafas menyentuh kaca
Bergumul dalam ruang angin dan kaca
Hingga beku berujud noda di lapis kaca
Hembusan nafas
Angin, kaca, dan noda
Buram kaca oleh kabut
Kabut yang terlahir kemudian
Dan ia masih saja duduk
Semakin dalam di dalam diam
Sesekali terlihat gerak bibirnya
Dan tetap dalam duduk
Dan ruang membuat menjadi beku
Mata kabur
Pikiran tertumpu
Terhalang kabut tipis
Buram di pandangan
Diam yang buram
Angin yang buram
Nafas yang buram
Kaca yang buram
Noda yang buram
Dalam keterhalangan
Mata yang buram
Dan ia tetap adanya
Diam, angin, nafas, kaca, noda,
Burampun dalam buram itu sendiri
Persetubuhan yang melahirkan bayi-bayi…
Dan ia masih saja duduk, diam
Sorot matanya tajam menatap lurus kedepan.
Ia masih saja duduk, duduk di balik pintu
Duduk diam dan pandangannya tetap lurus kedepan
Untuk anak-anak ku yang terlahir kemudian…
Kelak lapang menemani
Untuk anak-anak ku yang terlahir kemudian…
Ds.nugroho
Klaten, 14 maret 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar