LABEL

KARTUN (87) KARIKATUR (40) ILUSTRASI (28) POSTER (25) PENSIL (21) klaten komik (20) WS RENDRA (10) SKETSA (7) TULISAN (6) YANG (6) PUISI 2 (5) PUISI (4) KAOS T SHIRT (2)

untuk anak neger

Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Oktober 2011

Di ulu

Di ulu

Surat tersirat
Pada nyawa yang
Merayap di tembok pun
Luput dari pikirku.
Sedang pada tikar
Tubuh terbakar,
Merasai belulang
Bertengkar.

Dan darah beku
Muncrat keluar
Dari nadi.
Ketakberaturan nafas
Membuat pekak
Di gendang telinga
Sebab dengusnya
di sela kerongkongan

Raut muka
berganti-ganti warna
hingga pada
puncak pandang
purnama, luluh
membayang
di hidup.

Gaduh serangga malam
Mengitari hunian
Tinggal di tepinya
Katak hijau,
Derik jangkrik
Bersatu dengan gaung
Burung tuhu.
Dalam gelap
Kehidupan terdengar riuh
Lalu sunyi di ujung
Ratri.

Sudah berpuluh –puluh malam
Berlalu
Roman mukamu
menyematkan
kesumat
kerinduan karena
hinggap di ulu


Klaten, 5 oktober 2011
Ds.nugroho

Senin, 26 September 2011

zam zam di kaki merapi

Zam zam
Di kaki Merapi
Peradaban petapa
Di kering bumi
Kerna,
Di silam
Waktu
Kekasih memanggil

Di batu
Mata pandang
Berlabuh
Angan
Di butir pasir
Di ujung
Parau
Kekasih memanggil

Di palung
Peluh leluhur
Lalu
Kecipak
Tepuk tangan
Anak cucu
Kerna
Di silam
Waktu
Kekasih merintih

Di angin
Tembang
Syair kekasih
Larut dalam
Puja
Leluhur
Sebab
Rindu
Mengerjat
Kekasih …kekasih

Di nafas
Singgah
Aroma peluh leluhur
Merambat
Dendang
Syair kekasih
Di karib
Waktu
Menyemayami
Di jejantung
Kekasih..kekasih..Yaa..kekasih


Ds nugroho
Klaten,24 sept 2011

Rabu, 29 September 2010

akan aku

Kalau memikirkanmu menjadikan sakit pikiranku.
Baiklah sayang, akan aku ikuti caramu berpikir.
Atau sama sekali aku tidak memikirkanmu.
Kalau memikirkanmu mewujud kunang di pikiranku.
Sayang, akan aku urai lagi caraku berpikir tentangmu.
Atau sama sekali aku tidak memikirkanmu.

Kalau memikirkanmu membuat buntu pikiranku,
Kalau memikirkanmu menjadi bunga di pikiranku,
Kalau memikirkanmu membuat pulas pikiranku,
Baik, baiklah sayang…
Akan aku hentikan memikirkanmu.
Akan aku buang jauh-jauh semua pikiranku tentangmu.
Akan aku biarkan sayang.
Akan aku biarkan.
Tentang segala keunikan ini.

Rasa sakit yang unik,
Kunang yang unik,
Buntu yang unik,
Bunga yang unik,
Pulas yang unik,
Pikiran yang unik,
Gairah sayangku kepadamu yang begitu unik,
Pun aroma tanah dan wewangian di lelangit.

Dan kita berbincang,
Bukan untuk kebaikan atau demi keburukan siapa.
Sayang, sebab purba bagiku.
Gairah sayangku kepadamu mewujud sayangmu kepadaku.

Klaten, September 2010
De Es Nugroho.

Rabu, 21 Oktober 2009

LUKA - LUKA DI DALAM LEMBAGA
INTAIAN KEANGKUHAN KEKERDILAN JIWA
NODA DI DALAM PERGAULAN ANTAR MANUSIA
DUDUK DI DALAM KEMACETAN ANGAN - ANGAN
AKU BERONTAK DENGAN MEMANDANG CAKRAWALA

JARI - JARI WAKTU MENGGAMITKU
AKU MENYIMAK KEPADA ARUS KALI
LAGU MARGASATWA AGAK MEREDA
INDAHNYA KETENANGAN TURUN DI HATIKU
LEPAS SUDAH HIMPITAN - HIMPITAN YANG MENGEKANGKU



Puisi ini ditulis oleh penyairnya dengan bahasa yang diusahakan sangat seadanya, yang kira-kira bisa dipahami oleh setiap anak yang baru mengenal sejumlah kata-kata, sebab penyair itu merasa begitu ketakutan bahwa kematiannya akan menjadi sempurna jika ternyata tak seorangpun memahami kata-katanya.

Jangan salah sangka. Ia takut bukan karena kawatir akan kehilangan kepala, melainkan justru ia sangat mendambakan betapa bahagianya kalau pada suatu hari ia kehilangan kepala. Masalahnya - terus terang saja - kepala itu sudah bertengger di atas lehernya hampir tigapuluh tahun. Baginya ini merupakan beban yang teramat berat dan membuat ia merasa tidak normal. Karena teman-temannya yang normal pada umumnya hanya menyangga satu kepala paling lama lima tahun, bahkan ada yang hanya satu dua tahun, malah ada juga yang sesudah dua tiga bulan sudah berganti kepala.

Penyair kita ini sudah menghubungi Tuhan ribuan kali melalui salat, wirit dan tarikat, demi memperoleh kejelasan resmi mengenai keanehan ini. Bahkan sebelum itu sudah ia datangi beratus-ratus dukun, kiai dan kantor ikatan cendekiawan, namun tidak seorangpun sanggup memberinya jawaban yang memuaskan hati. Tuhan sendiri sepertinya terlalu bersabar menyimpan teka-teki ini, bahkan sesekali ia merasakan Tuhan seakan-akan bersikap ogah-ogahan terhadap masalah ini.

Matahari selalu terbit dan tetumbuhan tak pernah berhenti mengembang, tapi itu hanya menambah ketegasan perasaan penyair kita bahwa sesungguhnya yang berlangsung hanyalah kemandegan. Ayam berkokok tiap menjelang pagi, kemudian manusia bangun dan tidak melakukan apa-apa untuk mengubah kebosanan yang sedemikian merajalela. Alam semesta ini sendiri begitu patuh menggantikan siangnya dengan malam dan menggilirkan malamnya dengan siang, tapi manusia hanya sibuk memproduksi ungkapan yang berbeda untuk kenyataan yang sama, manusia habis waktu dan tenaganya untuk mengulangi kebodohan dan keterperosokan yang sama, meskipun mereka membungkusnya dengan perlambang-perlambang baru sambil ia meyakin-yakinkan dirinya atas perlambang itu.

"Ya, Allah", seru penyair kita ini pada suatu malam yang sunyi, "patahkan leherku agar kepalaku menggelinding ke dalam parit, kemudian persiapkan kepala yang baru yang bisa membuatku hidup kembali !".

Bisa dipastikan Tuhan mendengar doa itu, tetapi siapa yang menjamin bahwa Ia bakal mengabulkannya? Bukankah penyair itu sendiri yang dulu meminta kepalanya yang ini untuk menggantikan kepala yang sebelumnya. Apa jawab penyair kita ini seandainya Tuhan mengucapkan argumentasi begini : "Bagaimana mungkin kuganti kepalamu, sedangkan kepala-kepala lain di tanganKu belum punya pengalaman sama sekali untuk bertindak sebagai kepala ? Bukankah untuk menjadi kepala, segumpal kepala harus memiliki pengalaman sebagai kepala sekurang-kurangnya lima tahun ?".

Penyair kita sangat-sangat menyesal kenapa makhluk Tuhan harus hidup dengan syarat mempunyai kepala. Pada mulanya ia hanya badan saja, badan bulat yang seluruh sisi-sisinya sama. Tapi kemudian karena ia kawatir akan disangka sederajat dengan buah kelapa, maka ia memohon kepada Tuhan serta mengupayakan sendiri pengadaan kepala, lantas kaki dan tangan.

Tetapi ternyata inilah sumber utama malapetaka hidupnya. Pada mulanya kepala itu berendah hati dan patuh kepadanya, karena pada dasarnya kepala itu memang tidak pernah ada seandainya ia tidak meminta kepada Tuhan dan mengadakannya.

Kesalahan pertama yang dilakukan oleh penyair ini adalah meletakkan kepala di bagian atas dari badannya, sehingga badannya itu dengan sendirinya kalah tinggi dibanding kepalanya, dan dengan demikian menjadi bawahannya. Hari-haripun berlalu, sampai pada suatu saat ia menyadari bahwa sang kepala ternyata telah mengambil alih hampir semua perannya. Misalnya soal berpikir, sekarang telah dimonopoli oleh kepala. Apa yang harus ia lakukan, kemana harus melangkah, apa yang boleh dan tidak boleh, ditentukan oleh kepala. Ia sendiri dilarang berpikir karena segala gagasan telah disediakan oleh kepala, sedemikian rupa sehingga ia bukan saja tak boleh berpikir, tapi lama kelamaan ia juga menjadi tidak mampu lagi berpikir.

Dulu ia membayangkan, tangan akan menggenggam fulpen atau senapan, jari-jari hendak mengelupas buah nanas atau menyogoki lubang hidung, dialah yang berhak menentukan. Tapi ternyata ketika ada makanan, yang memerintahkan tangan untuk mengambilnya adalah kepala, kemudia diberikannya kepada mulut yang menjadi aparat sang kepala, sedangkan badannya hanya menampung makanan itu, tanpa ikut mengunyah dan merasakan nikmatnya.

Juga ia yakin bahwa apakah kakinya akan melompati sungai atau dipakai untuk menjungkir badan, dialah yang merancang dan memutuskannya. Tapi sekarang segala sesuatunya menjadi jelas bahwa hak itu telah diambil alih oleh kepala, dan ketika ia mempertanyakan hal itu, tiba-tiba saja tangannya yang memegang pentungan menggebugnya, dan kakinya yang bersatu tebal keras menendangnya.

"Wahai Tuhan, pengasuh badan yang menderita", guman penyair kita dengan nada yang penuh kecengengan, "jikapun tanganMu terlalu suci sehingga jijik untuk berurusan dengan segala yang kotor dalam kehidupan hamba-hambaMu, tolonglah Engkau berkorban sekali ini saja, sentuhlah kepalaku, pegang ia dan cabut dariku, kemudian kuusulkan langsung saja dirikanlah kerajaanMu dan Engkau sajalah yang mulai sekarang bertindak sebagai kepalaku".

EMHA AINUN NADJIB
1994
DARI KUMPULAN PUISI "DOA MOHON KUTUKAN"
( RISALAH GUSTI - 1995

Blogger news

Blog Archive