oleh De Es Nugroho pada 18 Februari 2010 jam 17:27
tak tuhan, tak berhala
tak malaikat, tak iblis
tak kitab, tak mantra
tak nabi, tak pendusta
tak akhir, tak awal
tak elak, tak tetap
wahai... jangan lagi sunyi tak bermakna
tak langit, tak angkasa
tak laut, tak samudera
tak bumi, tak tanah
tak gunung, tak lembah
tak batu, tak mutiara
tak air, tak arus
wahai... jangan lagi sunyi tak bermakna
tak jasad, tak raga
tak jiwa, tak ruh
tak badan, tak tubuh
tak rasa, tak hasrat
tak sukma, tak nyawa
tak bentuk, tak tahayul
wahai... jangan lagi sunyi tak bermakna
tak hujan, tak basah
tak kemarau, tak kering
tak debu, tak asap
tak sesak, tak segar
tak murni, tak asli
tak palsu, tak terang
wahai ... jangan lagi sunyi tak bermakna
tak tutup, tak buka
tak tirai, tak hijab
tak terang, tak jelas
tak ingkar, tak kufur
tak tahu, tak ingat
tak gapai, tak rengkuh
wahai... jangan lagi sunyi tak bermakna
gelap, malam, pekat, selubung, singkap, ungkap...
wahai jangan..., jangan lagi sunyi tak bermakna
18:10_18 februari 2010
dari jogja ke klaten
ds.nugroho
Tampilkan postingan dengan label PUISI 2. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PUISI 2. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 14 Agustus 2010
Di balik pintu
oleh De Es Nugroho pada 14 Maret 2010 jam 9:37
Dan ia masih saja duduk, diam
Sorot matanya tajam menatap lurus kedepan.
Ia masih saja duduk, duduk di balik pintu
Duduk diam dan pandangannya tetap lurus kedepan
Pintu yang tembus pandang
Sebab dari kaca adanya
Dibalik pintu memandang
Karena itu terpandang juga dirinya
Lantas kemana gerangan dalam dan luarnya
Sebab tidak ada beda diantaranya
Oleh pintu kaca adanya
Sebab mata mampu menembusnya
Dan ruang membuat menjadi beku
Ruang butuh ukuran
Hingga sudut- sudut yang tak terhingga
Ada garis lurus tegas juga lembutnya lengkungan
Atau ketidak beraturan perpaduan keduanya
Pandangan mata sedikit kabur
Hembusan nafas terpacu
Hingga jarak pun sampai
Menyentuh pintu kaca
Persetubuhan ruang
Angin nafas menyentuh kaca
Bergumul dalam ruang angin dan kaca
Hingga beku berujud noda di lapis kaca
Hembusan nafas
Angin, kaca, dan noda
Buram kaca oleh kabut
Kabut yang terlahir kemudian
Dan ia masih saja duduk
Semakin dalam di dalam diam
Sesekali terlihat gerak bibirnya
Dan tetap dalam duduk
Dan ruang membuat menjadi beku
Mata kabur
Pikiran tertumpu
Terhalang kabut tipis
Buram di pandangan
Diam yang buram
Angin yang buram
Nafas yang buram
Kaca yang buram
Noda yang buram
Dalam keterhalangan
Mata yang buram
Dan ia tetap adanya
Diam, angin, nafas, kaca, noda,
Burampun dalam buram itu sendiri
Persetubuhan yang melahirkan bayi-bayi…
Dan ia masih saja duduk, diam
Sorot matanya tajam menatap lurus kedepan.
Ia masih saja duduk, duduk di balik pintu
Duduk diam dan pandangannya tetap lurus kedepan
Untuk anak-anak ku yang terlahir kemudian…
Kelak lapang menemani
Untuk anak-anak ku yang terlahir kemudian…
Ds.nugroho
Klaten, 14 maret 2010
Dan ia masih saja duduk, diam
Sorot matanya tajam menatap lurus kedepan.
Ia masih saja duduk, duduk di balik pintu
Duduk diam dan pandangannya tetap lurus kedepan
Pintu yang tembus pandang
Sebab dari kaca adanya
Dibalik pintu memandang
Karena itu terpandang juga dirinya
Lantas kemana gerangan dalam dan luarnya
Sebab tidak ada beda diantaranya
Oleh pintu kaca adanya
Sebab mata mampu menembusnya
Dan ruang membuat menjadi beku
Ruang butuh ukuran
Hingga sudut- sudut yang tak terhingga
Ada garis lurus tegas juga lembutnya lengkungan
Atau ketidak beraturan perpaduan keduanya
Pandangan mata sedikit kabur
Hembusan nafas terpacu
Hingga jarak pun sampai
Menyentuh pintu kaca
Persetubuhan ruang
Angin nafas menyentuh kaca
Bergumul dalam ruang angin dan kaca
Hingga beku berujud noda di lapis kaca
Hembusan nafas
Angin, kaca, dan noda
Buram kaca oleh kabut
Kabut yang terlahir kemudian
Dan ia masih saja duduk
Semakin dalam di dalam diam
Sesekali terlihat gerak bibirnya
Dan tetap dalam duduk
Dan ruang membuat menjadi beku
Mata kabur
Pikiran tertumpu
Terhalang kabut tipis
Buram di pandangan
Diam yang buram
Angin yang buram
Nafas yang buram
Kaca yang buram
Noda yang buram
Dalam keterhalangan
Mata yang buram
Dan ia tetap adanya
Diam, angin, nafas, kaca, noda,
Burampun dalam buram itu sendiri
Persetubuhan yang melahirkan bayi-bayi…
Dan ia masih saja duduk, diam
Sorot matanya tajam menatap lurus kedepan.
Ia masih saja duduk, duduk di balik pintu
Duduk diam dan pandangannya tetap lurus kedepan
Untuk anak-anak ku yang terlahir kemudian…
Kelak lapang menemani
Untuk anak-anak ku yang terlahir kemudian…
Ds.nugroho
Klaten, 14 maret 2010
Doa Yang Terpenggal...
oleh De Es Nugroho pada 17 Mei 2010 jam 18:50
Hebat benar engkau
Mampu membungkam
Para pengancammu
Yang kau tulis di dalam agendamu
Sesuai urutan abjad
Pun secara acak
Lalu kau acungkan ujung jari telunjuk itu
Dan tumbanglah mereka
Sedang aku
Tak mampu untuk menghindar
Dari ancaman yang datang
Hanya satu jurus yang aku mampu
Dengan sikap kuda-kudaku
Ku ulurkan kedua tangan ku
Lalu meluncurlah ucapku
”...Duh Gusti kang kagungan gesang...”
Belum usai kata ...tiba-tiba...
Terdengar suara...
O...alah ngger-ngger..
Keuntungan apa yang dia ambil
Sehingga mengancam mu
Pun kerugian apa lagi yang kau dapat
Atas ancamannya
Kekayaan...
Sedang untuk sekedar merokok pun
Kau masih meminta belas kasihan kawanmu
Sedang untuk memenuhi makan siangmu pun
Tak jarang engkau ngutang, kelak kau bayar ketika gajian
O...alah ngger-ngger..
Keuntungan apa yang dia ambil
Sehingga mengancam mu
Pun kerugian apa lagi yang kau dapat
Atas ancamannya
Kekuasan...
Sedang engkau hanyalah seorang buruh
Pegawai kecil dengan pendapatan “press body”
Sedang untuk sekedar menjaga
Nyenyak tidur anak istri mu pun belum kau penuhi
O...alah ngger-ngger..
Keuntungan apa yang dia ambil
Sehingga mengancam mu
Pun kerugian apa lagi yang kau dapat
Atas ancamannya
Dan doa pun tak lagi....
Sleman, 17052010
Hebat benar engkau
Mampu membungkam
Para pengancammu
Yang kau tulis di dalam agendamu
Sesuai urutan abjad
Pun secara acak
Lalu kau acungkan ujung jari telunjuk itu
Dan tumbanglah mereka
Sedang aku
Tak mampu untuk menghindar
Dari ancaman yang datang
Hanya satu jurus yang aku mampu
Dengan sikap kuda-kudaku
Ku ulurkan kedua tangan ku
Lalu meluncurlah ucapku
”...Duh Gusti kang kagungan gesang...”
Belum usai kata ...tiba-tiba...
Terdengar suara...
O...alah ngger-ngger..
Keuntungan apa yang dia ambil
Sehingga mengancam mu
Pun kerugian apa lagi yang kau dapat
Atas ancamannya
Kekayaan...
Sedang untuk sekedar merokok pun
Kau masih meminta belas kasihan kawanmu
Sedang untuk memenuhi makan siangmu pun
Tak jarang engkau ngutang, kelak kau bayar ketika gajian
O...alah ngger-ngger..
Keuntungan apa yang dia ambil
Sehingga mengancam mu
Pun kerugian apa lagi yang kau dapat
Atas ancamannya
Kekuasan...
Sedang engkau hanyalah seorang buruh
Pegawai kecil dengan pendapatan “press body”
Sedang untuk sekedar menjaga
Nyenyak tidur anak istri mu pun belum kau penuhi
O...alah ngger-ngger..
Keuntungan apa yang dia ambil
Sehingga mengancam mu
Pun kerugian apa lagi yang kau dapat
Atas ancamannya
Dan doa pun tak lagi....
Sleman, 17052010
Suluk Gunung
oleh De Es Nugroho pada 26 Oktober 2009 jam 12:42
Suluk Gunung
Duh…Gusti,
Kulo nyuwun,
Paringo ati tentrem,
Tansah bungah ndonya akherat,
Katebihno raos ajrih,
Tansah bekti Kanjeng Nabi,
Muhammadu Rasullillah,
Kalebet wonten panggenan,
Golonganipun Paduko.,
Duh…Gusti,
Kulo nyuwun,
Pemimpin kang duwe roso,
Welas asih marang rakyate,
Kados junjungan Paduko,
Duh…Gusti,
Kulo nyuwun,
Pemimpin engkang adil,
Kados adile para Rasul,
Kanthi Adile Paduko,
Suluk Gunung
Duh…Gusti,
Kulo nyuwun,
Paringo ati tentrem,
Tansah bungah ndonya akherat,
Katebihno raos ajrih,
Tansah bekti Kanjeng Nabi,
Muhammadu Rasullillah,
Kalebet wonten panggenan,
Golonganipun Paduko.,
Duh…Gusti,
Kulo nyuwun,
Pemimpin kang duwe roso,
Welas asih marang rakyate,
Kados junjungan Paduko,
Duh…Gusti,
Kulo nyuwun,
Pemimpin engkang adil,
Kados adile para Rasul,
Kanthi Adile Paduko,
monggo Juragan
oleh De Es Nugroho pada 07 Januari 2010 jam 13:49
Monggo Juragan
sebab ia hanyalah seorang abdi,
dan tak bosan untuk mengulang.
monggo Juragan, setiap kali datang,
derit pintu, monggo juragan.
sebab ia hanyalah seorang abdi,
dan tak enggan untuk menyapa.
monggo Juragan, setiap kali datang,
derit pintu, untuk empunya rumah.
sebab ia hanyalah seorang abdi,
dan terus menggumam, gerak bibir,
pun sampai di ulu.
monggo juragan, monggo,
sebab ini rumah mu.
sebab ia seorang abdi,
dan sadar bahwa ia hanyalah abdi.
Juragan monggo, monggo Juragan,
sebab ini milikmu,
kepantasan mu juga. sebab ini punyamu, Juragan.
dan tak mempersilahkan mu?
bukankah Juragan yang memperkerjakan hamba.
kepatutan yang bagaimana hamba ini?
Juragan, monggo monggo Juragan.
dan lancang bila mempersilahkan mu,
sebab ini rumahmu, kepunyaan Juragan.
ds.nugroho, klaten, 7 januari 2010.
Monggo Juragan
sebab ia hanyalah seorang abdi,
dan tak bosan untuk mengulang.
monggo Juragan, setiap kali datang,
derit pintu, monggo juragan.
sebab ia hanyalah seorang abdi,
dan tak enggan untuk menyapa.
monggo Juragan, setiap kali datang,
derit pintu, untuk empunya rumah.
sebab ia hanyalah seorang abdi,
dan terus menggumam, gerak bibir,
pun sampai di ulu.
monggo juragan, monggo,
sebab ini rumah mu.
sebab ia seorang abdi,
dan sadar bahwa ia hanyalah abdi.
Juragan monggo, monggo Juragan,
sebab ini milikmu,
kepantasan mu juga. sebab ini punyamu, Juragan.
dan tak mempersilahkan mu?
bukankah Juragan yang memperkerjakan hamba.
kepatutan yang bagaimana hamba ini?
Juragan, monggo monggo Juragan.
dan lancang bila mempersilahkan mu,
sebab ini rumahmu, kepunyaan Juragan.
ds.nugroho, klaten, 7 januari 2010.
Langganan:
Postingan (Atom)
