LABEL

KARTUN (87) KARIKATUR (40) ILUSTRASI (28) POSTER (25) PENSIL (21) klaten komik (20) WS RENDRA (10) SKETSA (7) TULISAN (6) YANG (6) PUISI 2 (5) PUISI (4) KAOS T SHIRT (2)

untuk anak neger

Tampilkan postingan dengan label TULISAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TULISAN. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Juni 2012

Kentut dan Martabat Manusia?



 Kentut dan Martabat Manusia?

Bukan berarti kalau bunyi yang di hasilkan terdengar keras, atau dari dahsyatnya aroma yang singgah di udara hingga terhirup di dalam hidung, lantas disebut sebagai manusia bermatabat tinggi. Pun sebaliknya jika tidak mengeluarkan bunyi tetapi aromanya tetap mampu mengusik kenyamanan hidung disaat bernafas disebut sebagai pihak yang bermatabat di bawahnya. Jadi keras tidaknya bunyi yang ditimbulkan, atau bau dan tidaknya aroma yang dihasilkan, bukan, dan tidak menjadi pedoman akan keberadaan martabat seorang manusia. Lantas?

 Belajar dari sebuah riwayat, ketika sedang di dalam suatu majelis Rasulullah saw, tiba-tiba suasana menjadi gaduh. Suasana yang semula kusyuk terusik oleh datangnya “tamu” yang tidak kulo nuwun, hadirnya aroma khas atau gas buang tubuh yang menyelinap masuk di setiap hidung hadirin. Bisa dibayangkan, wajah-wajah yang semula tenang berubah menjadi saling pandang dengan sorot mata saling curiga. Bahkan bisa jadi kalau ia seorang lelaki jantan pun di buat keder , dan akan tetap diam untuk menjaga atas kejantanannya atau jaim (jaga image). Apalagi kalau ia adalah seorang perempuan yang berparas elok, sikap samapun akan dilakukan sebagaimana sikap seorang pria jantan tadi.

 Lantas Rasulullah saw berkata, “ Barang siapa yang sehabis atau baru saja memakan daging unta, segera mengambil air wudlu.” Kemudian satu persatu beranjak berdiri meninggalkan tempat duduk untuk bersuci. Setelah semua selesai bersuci dan duduk di tempat semula, suasana kembali hening dan majelis pun kembali berlangsung. Dalam riwayat ini satu hal pembelajaran yang dapat kita ambil adalah, pilihan kalimat yang di ucapkan Rasulullah saw. “ Barang siapa yang sehabis atau baru saja memakan daging unta, segera mengambil air wudlu.” Kalimat yang tidak menuduh individu dalam sebuah kelompok atau majelis. Akan lain kejadiannya jika saja kalimat yang diucapkan beliau, suatu misal, “Siapa yang kentut , segera bersuci ?” Dan bisa dipastikan tidak akan ada yang membantah atas ucapan itu sebab rasa cintanya terhadap beliau. Lalu, salah satu dari yang duduk di dalam majelis akan berdiri dan kemudian mengaku, bahwa ialah pemiliknya atau pelakunya, atau orang yang kentut. Dengan wajah yang menahan rasa malu, kemudian menunduk kepalanya lalu berdiri, dan berjalan perlahan menuju tempat berwudlu. Lebih memprihatinkan lagi kembali pulang dan tidak melanjutkan pertemuan di majelis karena saking malunya. Tetapi itu tidak dilakukan olehnya.

Sebab, beliau mengetahui dan mengerti betul apa yang dikerjakan umatnya. Bahwa sebagian dari jamaah di majelis tersebut baru saja selesai memakan daging unta. Jadi sangat jelas kelembutan hati beliau, kecerdasan dalam bergaul bersama umatnya. Atas pilihan kalimatnya, “ Barang siapa yang sehabis atau baru saja memakan daging unta, segera mengambil air wudlu.”Karena beliau tidak ingin satu saja dari umatnya menjadi malu atau mempermalukannya.

Martabat atau nguwongke atau tidak mempermalukan seorang manusia di hadapan atau didepan manusia lainnya. Keluarnya gas buang atau kentut yang merupakan sunnatullah dalam majelis tersebut menjadi media belajar. Atau pilihan sikap kita didalam pergaulan kehidupan bermasyarakat.
Apalagi di masa-masa sekarang ini. Kecenderungan yang serba instan atau tergesa-gesa, cepat menuduh dan mengambil kesimpulan. Di era keterbukaan dan tanpa disadari mengabaikan norma yang melukai martabat manusia.

 Salam…..hanya sebuah catatan kecil dari desa di klaten

ds.nugroho Klaten, 13 juni 2012.

Sabtu, 20 Juni 2009

pintu, maiyah bukan mazhab


Pintu, Maiyah bukan Mazhab




Ditulis oleh DS. Nugroho‚ Jumat, 02 November 2007 07:54‚ Opini - Esai

"Sing tak pengini kowe teko mrene iku mung siji, kowe biso duwe pikiran sing bening, lan ati sing resik. Yen kowe wis biso koyo ngono, kuwi pek’en kabeh aku ora arep njaluk", ungkap Cak Nun di penghujung acara Mocopat Syafaat. Atau kira-kira dua tiga kali kedatangan saya di mocopatan, sebelum pemikiran tentang maiyah. Ungkapan tersebut seperti magnet yang terus menerus menarik diri ini untuk senantiasa datang dan hadir di dusun Jetis, Kasihan Bantul.
Ibarat orang yang sedang bertamu, baru menginjakkan kaki di pelataran rumah, pintu sudah dibuka lebar-lebar. Dan di depan pintu, si empunya rumah sudah menunggu menyambut kedatangan kita. Tidak ada uluk salam, karena sudah terwakili dengan terbukanya pintu. Ucapan salam yang sesungguhnya adalah kepercayaan dan keyakinan si empunya rumah terhadap para tamunya. Sehingga sudah menjadi kelayakan atau kewajiban kita di dalam menjaga etika atau adab "per-tamu-an". Untuk tidak mengkhianati kepercayaan dan keyakinan si empunya rumah. Atau, masing-masing dari kita bertanggungjawab atas pilihan-pilihan kita di dalam bersikap. Tentu saja pilihan sikap yang didasar-landasi kebeningan pikiran dan olah resik dari kedalaman kandungan hati. Atau, bebarengan untuk senantiasa belajar membuat menjadi beningnya oikiran dan tetap istiqomah untuk reresik kandungan hati.
Lalu perlahan-lahan konsep tentang "tamu dan tuan rumah" di acara Mocopat Syafaat "dihilangkan". Atau dibuat menjadi sempit jaraknya. Dan tumbuh menjadi keluarga maiyah, seiring dengan pemikiran tentang Maiyah. Jadi itulah yang saya katakan maiyah sebagai pintu, pintu yang terbuka. Dan tinggal bagaimana kita bersikap terhadap pintu yang sudah terbuka. Sumangga kersa!!
"Bebarengan atau bersama-sama belajar untuk membeningkan pikiran dan membersihkan hati". Ungkapan Cak Nun yang membuat diri ini untuk selalu berusaha hadir disetiap mocopatan. Sebagai ajakan untuk berintrospeksi diri. Membangun dan mengembangkan kesadaran diri untuk merdeka memakanai hidup. Untuk metani dan belajar bersikap.
Karena, Maiyah hanyalah pintu. Untuk terbukanya kebuntuan atas pilihan sikap dan cara pikir. Jadi, Maiyah bukanlah mazhab. Aliran apalagi sebuah organisasi massa Islam yang besar, lalu mempunyai alasan untuk membuat aturan untuk menjadi hakim. Karena tumbuhnya Maiyah bukan dan tidak untuk tujuan yang remah seperti itu. Bukan untuk menjadi siapa, tetapi apa yang sudah, sedang dan akan kita kerja lakukan. Sebuah proses yang terus menerus.
Justru Maiyah merupakan cara pandang untuk nggathukk'e dan menemukan ketepatan dan keteraturan bentuk. Membuat menjadi pupusnya ketidak dewasaan dalam berpikir dan bersikap. Membuka pintu untuk mencari dan merumuskan kemudian menemukan formulanya. Maiyah hanyalah pintu untuk menggugah kesadaran pikir dan kelelapan hati yang tertidur. Kesederhanaan dan kebersahajaan di dalam menjalani kehidupan bermasyarakat. Lantas tinggal sikap kita bagaimana, purun napa mboten, yes or no? Mau atau tidak.
Karena, Maiyah bukanlah mazhab. Maka orang-orang Maiyah harus mempunyai kewaspadaan. Sebab, Maiyah bukanlah harga mati. Atau bukan merupakan bentuk akhir. Toh kalau memang Maiyah itu adalah bentuk akhir sebuah nilai, bukanlah pada kuantitas titik pentingnya. Namun, justru bagaimana kita, sikap orang-oran Maiyah di dalam berproses menjalani laku atau bermaiyah. Maiyah adalah sebuah proses kebersahajaan dan kesederhanaan perjalanan hidup. Untuk berusaha belajar sadar, dan menjadi lebih berkualitas. Sudah semestinya kita orang Maiyah melapangkan hati dan pikiran. Karena Maiyah merupakan metode pembelajaran untuk me-merdeka-kan akal pikiran.
DS Nugroho, tinggal di Klaten.

Selasa, 10 Maret 2009

Kekerasan Yang Mendarahdaging

Kekerasan Yang Mendarahdaging

Sekeras-kerasnya batu kali masih bisa hancur oleh hantaman godam yang terus menerus. Menghunjam pada satu titik pada batu kali tersebut. Kesabaran dan ketelatenan tenaga si pemukul, dengan memperhatikan tekstur dari batu kali itu sendiri mampu untuk memecah bongkahan besar batu menjadi kepingan-kepingan.
Satu kali pukulan godam yang mengenai batu kali menjadi bekas yang berbentuk guratan atau retakan. Jadi, kalau arah pukulan tersebut secara kontinyu menghunjam pada satu titik yang sama, maka kemudian akan semakin menambah lebar retakan di batu tersebut. Dan tidak mustahil dengan dua atau tiga kali pukulan seorang pemecah batu yang berpengalaman, mampu memecahkan bongkahan batu dalam waktu yang relatif singkat. Dengan lamanya jam terbang bekerja sebagai pemecah batu, sangat mengenal bentuk dan jenis batu, juga alur atau teksturnya, sampai mengetahui tingkat kekerasan batu yang akan di pecahnya.
Kemampuan mengilmui setiap jenis batu selama menjalani pekerjaan memecah batu diperoleh secara alami. Nalurinya mampu untuk membaca dan memperhitungkan, kemana mata godam diarahkan. Atau titik mana yang merupakan simpul serat batu tersebut. Seberapa tenaga yang dikeluarkannya, dan semua itu berjalan dengan terukur. Antara batu dan si pemecah batu seperti sudah menjadi satu daging dan darah. Menyatu, sudah tidak ada lagi jarak atau tabir.
Kemampuan untuk mengukur dan menakar ini mungkin yang tidak kita miliki di dalam mengelola kehidupan. Baik sebagai pribadi, kelompok belajar, paguyuban arisan, atau di tingkat organisasi yang lebih formal. Sehingga kita merasa tetap nyaman dan sangat menikmati berbagai bentuk kekerasan yang melingkari diri kita. Adanya korban jiwa dalam peristiwa demontrasi pun kita anggap sebagai pembelajaran berdemokrasi. Seperti sudah menjadi kesepakatan bersama, bahwa akibat dari belajar demokrasi adalah kekerasan dan timbul korban . Jadi, banyaknya kekerasan di negeri ini merupakan bukti atau cermin dari keberhasilan hidup berdemokrasi, atau semakin banyak korban jiwa, semakin menambah kesuburan tanaman demokrasi .
Kekerasan sudah tidak lagi menjadi milik orang-orang yang dulu di anggap sebagai sampah masyarakat. Yang pejabat, mahasiswa, pelajar, karyawan swasta atau negeri, kaya atau miskin, juga sudah tidak lagi mengenal jenis kelamin. Bahkan merambah hingga mereka yang dianggap sebagai tokoh atau mempunyai pengaruh di masyarakat tidak luput menjadi incaran mahluk kekerasan ini.
Saling serang dan menyalahkan, saling tuding dan cuci tangan, serta saling-saling yang lain sebagai bukti pembenaran diri. Susah bagi kita untuk sekedar mengetahui kenapa, mengapa dan bagaimana kekerasan itu muncul?. Kekerasan sebagai bentuk dari ketidakmampuan kita manusia dalam mengukur dan menakar diri. Sebagai perwujudan atau cermin dari kemalasan pikir dan olah rasa kemanusiaan kita atau lunturnya empati.
Kita tidak mempunyai keberanian untuk mempelajari setiap halaman atau lembaran sejarah secara utuh. Kita penggal-penggal sejarah diri kita sendiri, sehingga sulit bagi kita untuk sekedar percaya, bahwa; - kita sedang memanen hasil dari benih-benih yang dahulu kita tanam.
Kekerasan batu, kekerasan nalar dan naluri kita, melingkar-lingkar, dan memantul-mantul kesetiap arah dan kita tidak mempunyai kekuatan untuk mengendalikannya…?

Ds.nugroho

Jumat, 20 Februari 2009

Bukan Kesesatan Benar Menusuk Kalbu

Bukan Kesesatan Benar Menusuk Kalbu
Contributed by Emha Ainun Nadjib
Thursday, 08 May 2008

Jangankan menjadi Nabi: jadi manusia saja, siapa yang
benar-benar lulus? Alangkah mengagumkan
sahabat-sahabat yang gagah menyertakan kata Ulama,
Kiai, Ustadz, Syekh, Maulana, di depan namanya. Yang
tanpa hati ragu memakai surban di kepalanya,
mengenakan jubah semampir pundaknya, terlebih lagi
rangkaian butir tasbih di jari-jemarinya. Apakah
beliau sangat meyakini diri, ataukah setiap kali perlu
meyakin-yakinkan diri.


Adapun ilmuwan, cendekiawan, seniman, budayawan,
Begawan, Undagi, Ulil Abshar, Ulil Albab, Ulin Nuha,
terlebih lagi wadag-wadag seperti Profesor, Doktor,
Profesional, Pejabat, Presiden: di satu sisi itu
adalah perjalanan kebenaran dan kemuliaan, di sisi
lain itu adalah "mata'ul ghurur", perhiasan dunia,
serta "la'ibun wa lahwun", permainan dan senda gurau.


Pakai common sense saja: adakah kaki telah melangkah
sebagaimana yang dimaksudkan dulu oleh Peciptanya.
Adakah tangan telah mengerjakan mendekati gagasan
Pembikinnya. Adakah mata telah melihat, telinga telah
mendengar, akal telah mengolah ilmu dan wacana, mulut
telah memakan segala sesuatu yang dulu merupakan visi
missi Pihak yang merancangnya.


Kata Islam, seseorang adalah Nabi karena nubuwah.
Adalah Rasul karena risalah. Adalah Wali karena
walayah. Dan adalah manusia karena khilafah. Keempat
'ah' itu milik Allah, dilimpahkan alias diamanahkan
kepada makhluk dengan strata dan kualitas yang Ia
bikin berbeda, dengan Ia siapkan tingkat 'human and
social penetration' yang juga bertingkat-tingkat.


Khilafah itu titipan atau pelimpahan bagi semua dan
setiap manusia: tidak relevan, tidak rasional dan
tidak realistis dan a-historis untuk diambil sebagai
'icon' suatu golongan. Begitu engkau bukan dimaksudkan
Tuhan sebagai Malaikat, Iblis, Jin, hewan atau alam,
maka engkaulah Khalifah yang menyandang khilafah.


Secara simbolik-dinamik sering saya memakai idiom
persuami-istrian. Sebagaimana Allah 'memperistri'
makhluk-makhlukNya, lelaki 'memperistri' perempuan dan
Pemerintah 'dipersuamikan' oleh rakyat -- maka ummat
manusia dinobatkan menjadi 'suami' bagi alam semesta.
Tugasnya adalah menghimpun ilmu, melakukan pemetaan,
menyusun disain dan methodologi, menggambar dan
mensimulasikan sistem dan managemen untuk memproduksi
"rahmatan lil'alamin".


Sejarah ummat manusia di muka bumi telah mencatat
peradaban-peradaban para suami istri itu dengan
penumpahan darah yang terlalu banyak, dusta dan
peperangan yang selalu berlebihan, hipokrisi dan
kepalsuan yang bertele-tele, kebodohan ilmu dan
kemandegan akal yang amat memalukan, serta kekerdilan
mental dan kebutaan spiritual yang senantiasa
ditutup-tutupi dengan berbagai mode kesombangan yang
mewah namun menggelikan dan menjijikkan.


Manusia tidak bisa disebut pernah sungguh-sungguh,
konstan dan konsisten mempelajari Tuhan, setan,
demokrasi, nafsu, kebenaran, kemuliaan, dan terutama
mempelajari dirinya sendiri. Manusia melangkah
serabutan, berpikir sepenggal, bertindak instan,
menimbang dengan menipu timbangan, tetapi Tuhan
sendiri memang 'terlibat' dalam hal ini: "Inna
khalaqnal insana fil'ajal": sesungguhnya Aku ciptakan
manusia cenderung bersikap tergesa-gesa....


Sejarah sekolah dan universitas tidak pernah
benar-benar menyiapkan perjalanan tafakkur dan ijtihad
ummat manusia melalui tahap-tahap pola berpikir
linier, zigzag, spiral hingga thawaf siklikal.
Universitas hanya mewisuda Sarjana Fakultatif meskipun
kampusnya bernama universitas. Belum tuntas kaum muda
menjadi murid (murid: orang yang menghendaki ilmu),
dipaksakan naik ke bangku keangkuhan dengan menggelari
diri maha-siswa. Para pembelajar dan pencari ilmu
bersemayam di 'koma' -- begitu dia maha, finallah dan
titiklah sudah perjalanan ilmiahnya.


Di manakah pintu ilmu, babul 'ilmi? Di manakah kota
raya ilmu, madinatul 'ilmi? Siapa kaum terpelajar yang
tertarik pada idiom itu, apalagi menjelajahinya? Bagi
kaum muda Indonesia, cukuplah Thukul bagi mereka.
Sambil tiba-tiba menaiki 'maha'-kendaraan yang bernama
demokrasi, world class society, pilkada pemilu
pildacil, public figure, album 'religi', Majlis Ulama,
clean government, Negara Kesatuan Republik Indonesia
yang semakin tak pantas menyandang nama itu, di tengah
lautan meluap, gunung meletus, bumi bergoyang-goyang
sampai ke urat syaraf otak manusianya.


Padahal kapasitas sistem syaraf otak manusia itu
takkan pernah sanggup dirumuskan atau dikuasai oleh si
manusia sendiri. Padahal pendaran-pendaran
elektromagnetik 'nur' Allah yang bertebaran bertaburan
keseluruh permukaan bumi, memusat menggumpal di
seputar bagian atas ubun-ubun kepala setiap manusia.


Abracadabra! Siapakah yang tak sesat di antara kita?
Makan saja sesat sampai ke propinsi kolesterol, asam
urat, jantungan, gagal ginjal, ganti hati dan stroke.
Kehidupan berbangsa dan bernegara kita adalah festival
demi festival kesesatan nasional. Pemilu salah pilih
wakil dan pemimpin. 220 juta manusia tersesat ke satu
lorong cita-cita: mau kaya, eksis dan berkuasa.
Jalannya beribu-ribu, profesinya berbagai-bagai,
icon-nya berjenis-jenis, namun menuju satu lorong itu
juga.


Kesesatan sistem. Kesesatan moral. Kesesatan budaya.
Kesesatan ilmu. Kesesatan bermacam-macam kesesatan,
dengan kadar yang juga berbeda-beda. Sesat moral atau
akhlak. Sesat fiqih atau hukum. Sesat sosial. Setiap
keputusan ekonomi yang menjerumuskan orang banyak,
policy politik yang kontraproduktif terhadap keharusan
kemajuan dan pembangunan, adalah - pinjam bahasa Tuhan
- "dhulmun 'adhim", kesesatan yang nyata.


Sesat di segala wilayah: perda, perpres, perdes, di
rumah tangga, perusahaan, di jalanan. Khalifah Umar
bin Abdul Aziz menangis membentur-benturkan kepala ke
lantai, bersujud mohon ampun kepada Allah, 'hanya'
karena seekor onta terpeleset di jalan di wilayah
pemerintahannya. Sementara dalam kehidupan kita jumlah
penganggur bertambah puluhan juta tak ada yang merasa
bersalah, dilemma kesengsaraan ribuan penduduk bawah
jalan tol belum beres, pemimpinnya tega nampang
mencalonkan diri akan jadi Presiden.


Dan sama sekali tak bisa kita simpulkan bahwa
berbagai macam kesesatan yang sedang kita alami atau
sedang menimpa mayoritas bangsa kita kalah berbahaya
dibanding yang kita ributkan dengan kesesatan
AlQiyadah.


Hanya saja AlQiyadah menyentuh wilayah 'pamali',
'sirik', 'wadi', 'jimat' hatinya ratusan ribu orang.
Yakni aqidah. Teologi. Wacana sangat privat yang sudah
lebih mendalam di lubuk jiwa -- meskipun mungkin
karena saking mendalamnya maka susah diaplikasikan
keluar diri manusia untuk menjadi kebaikan sosial
bersama. Andaikan AlQiyadah mengajak korupsi, ia pasti
terpuji dan ke mana-mana pasti banyak kawan. Andaikan
AlQiyadah memakai tabir Parpol, segera para pencoleng
akan berkumpul mengerumuninya. Sebab bagi cara
berpikir keagamaan umum: parpol, uang, korupsi,
keculasan -- itu tidak sealamat dengan Allah dan Nabi
Muhammad.


Diam-diam saya pribadi menemukan bahwa alhamdulillah
kesesatan-kesesatan hidup saya tidak diketahui umum
atau pihak yang berwajib. Saya mohon dengan sangat
bagi teman-teman yang tahu bahwa selama ini saya
mendayung perahu hidup saya di aliran-aliran sesat
karena tidak umum dan bukan mainstream: hendaklah tak
usah melaporkan kepada MUI dan Pemerintah.


Itu semua karena sampai usia menjelang 60 th Allah
memperkenankan saya menjadi penduduk yang tak
diperhatikan, tak didengarkan, tak dianggep, selalu
diletakkan di luar garis-garis pemetaan dlam hal
apapun saja. Segala yang saya dan kami lakukan, rekor
apapun yang pernah kami capai, ke benua dan kota-kota
besar dunia belahan manapun kami mengibarkan Merah
Putih, dengan berapa ribu dan puluh ribu massapun saya
bercengkerama, prestasi dan kualitas apapun yang kami
gapai: saya dan kami tetap di luar peta.


Bahkan rasa syukur tertinggi saya adalah jika kelak
saya masuk sorga - sesudah lewat neraka: orang tetap
tidak percaya bahwa saya masuk sorga. Itulah sebabnya
pembicaraan di setiap forum selalu saya awali dengan
kalimat "Jangan percaya pada saya, percayalah sama
Allah dan Muhammad". Saya merasa bodoh kalau saya
membaiat orang, karena dengan begitu aku yang
melegitimasi kedudukanny, sehingga aku akan harus
turut bertanggujng jawab atas apa yang dilakukan oleh
orang yang saya baiat. Sedangkan di hadapan peradilan
Tuhan, tidak logis kalau aku bisa menolong anakku atau
aku bisa ditolong istriku. Tidak ada orang disumpah
atau disyahadati, yang ada adalah orang bersumpah atau
bersyahadat dengan dirinya sendiri.


Saya tidak pernah mengakui diri saya sendiri, karena
yang substansial adalah pengakuan Allah atasku, jika
hal itu sekarang atau kelak mungkin terjadi. Saya
tidak tega dan geli kalau orang menjadikan saya
sebagai panutan, menyebut saya Ustadz, Kiai, bahkan
ada spanduk berbunyi "Selamat Datang KH Emha Ainun
Nadjib". Ya Allah lucunya.


Maka tak pernah ada keberanian pada diri saya untuk
mengajak orang lain, apalagi untuk meyakini apa yang
saya yakini, untuk berpikir seperti saya berpikir,
untuk menganut apa yang saya anut. Setiap orang jangan
memandang saya. Pandanglah Allah, Muhammad, Yesus,
Budha, Sang Hyang Widhi: take it or leave it. Atau tak
usah memandang siapapun kecuali dirimu sendiri,
kepentinganmu sendiri, sebagaimana Firaun. Engkau
merdeka bahkan untuk menjadi Firaun. Itu urusanmu
dengan Tuhan dan dirimu sendiri, bukan dengan saya.


Semua Nabi dan Rasul, umpamanya Adam atau Yunus,
hanya berani menyebut dirinya dholim, "Robbana
dholamna anfusana", "Inni kuntu minadh-dholimin".
Maka siapakah aku, sehingga mantap untuk tak melihat
diriku tersesat? Kesesatan adalah milikku sehari-hari.
Oleh karena itu mengaku diri manusiapun rasa belum
pantas. Andaikanpun aku ini Ahlul Bait keturunan
Rasulullah SAW gabung dengan darah Brawijaya, pasti
kututupi sebagaimana kurahasiakan auratku.


Akan tetapi apakah saya menolak keseyogyaan dakwah? O
tidak. Saya seorang Da'i pelaku dakwah. Da'wah artinya
panggilan, yad'u artinya memanggil, pelakunya Da'i.
Menyapa. Memanusiakan. Meneguhkan bahwa yang selain
saya itu benar-benar ada. Da'wah itu panggilan pada
skala horisontal dengan sesama makhluk. Kalau
vertikal, dari kata yang sama menjadi du'a, bahasa
Indonesianya: doa, kata kerjanya juga yad'u, subyeknya
juga Da'i. Berdoa adalah menyapa Allah.


Kalau kita tiap saat minta-minta terus kepada Tuhan,
menurut suatu logika berpikir: tak akan lebih dikasihi
oleh Allah dibanding kalau kita rajin menyapaNya,
rajin 'gaul' sama Dia, 'mentuhankan' Tuhan sebagaimana
memanusiakan manusia. Tetangga lebih simpatik kepada
kita yang suka menyapanya dibanding yang sering
meminta-minta -- meskipun menurut pemahaman lain Tuhan
tidaklah sama dengan tetangga.


Pinjam puisinya Chairil Anwar: bukan kesesatan benar
menusuk kalbu, keridhaanmu menerima segala tiba, tak
setinggi itu atas debu, dan duka maha tuan bertahta....


Allah sendiri, Masya Allah memang Maha Menyesatkan.
Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah tak ada yang
bisa menyesatkannya, dan barang siapa disesatkan
olehNya tak seorangpun bisa memberinya petunjuk.


Aku yang kedua, Insya Allah Anda yang pertama. ***

PBCom
http://www.padhangmbulan.com Powered by Joomla! Generated: 27 May, 2008, 15:52

Jumat, 13 Februari 2009

Keterasingan Semut Hitam


Ketika lagi asyiknya mendengarkan alunan suara musik kiai kanjeng tiba-tiba saya dikagetkan oleh gigitan kecil tepat dileher bagian belakang. Kemudian secara reflek tangan kanan saya langsung menuju kearah dimana saya merasakannya. Dengan ujung jari dan ibu jari tangan, saya mendapatkan seekor semut kecil. Agak sedikit menggeliat memang semut itu kemudian cepat saya letakkan dilantai. Semut itupun segera menggerakkan kaki-kakinya menelusup dibalik tikar. Ya dibalik tikar yang terbuat dari jalinan daun pandan semut itu berlindung .Masih saja pandangan mata saya tertuju pada kali pertama saya meletakam semut itu dilantai.

Sungguh didalam pikiran saya terus terjadi semacam pertentangan, kenapa saya harus melepaskan semut yang menggigit leher saya tadi dan tidak membunuhnya. Walau kalau hanya untuk membunuh toh sangatlah mudah tinggal saya jepit dengan sedikit tenaga pun sudah akan mati. Dan semut itu pun sekarang dalam kesendirian, karena tidak tampak oleh mata pandang saya selain satu semut yang menggigit leher saya tadi. Dia sekarang menjadi sangat terasing, bisa saja semut itu sebenarnya terbawa dari tempat tinggal saya. Sehingga ia tidak menemukan komunitasnya yang selama ini hidup bersama.

Sekarang semut itu menjadi hidup sendiri, menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri dan mengawali pemenuhan kebutuhannyapun sekarang menjadi tidak bergantung pada semut yang lain. Dan saya sebagai mahluk yang paling bertanggung jawab terhadap kesendirian semut karena turut andil didalam menciptakan kesendirian si semut tadi. Pikiran itu terus saja tidak segera beranjak pergi dari kepala saya. Dan menjadikan ketidak nyamanan, urat saraf menjadi tegang. Segera saya ambil jurus jitu untuk menenangkannya. Tanggung jawab sebuah susunan kata yang teramat sangat beratnya. Bisa jadi kemauan semut itu sendiri untuk menjadi terasing, seandainya semut itu tidak menggigit leher mustahil ada keterasingan. Jadi saya tidak akan pernah memikirkan untuk ikut bertanggung jawab terhadap keteransingannya. Karena akibat menjadi ada oleh adanya sebab, dan keterasingan itu ia ciptakan dengan gigitan dileher saya.

Dan seandainya semut itu terbunuh oleh jari-jari tangan inipun bagaimana dengan meraka yang ditinggalkan . apakah mereka tidak merasakan kehilangan. Atau mereka terus berharap untuk bertemu lagi sedang semut itu sudah tidak mungkin lagi akan kembali menemui mereka. Menjadikan mereka mengharapkan sesuatu yang tak mungkin bukankah sama dengan keterasingan itu sendiri. Dan itu merupakan suatu keterasingan kelompok, karena mereka adalah anaknya, adik ataupun kakak dari si semut itu, dan komunitasnya. Semakin bertambah lengkaplah kecemasan-kecemasan dan ketidak nyamanan dalam diri ini. namun, bukankah manusia itu sendiri merupakan mahluk asing yang hidup di muka bumi ini...?***

Blogger news

Blog Archive